Masuk - Daftar - Jadikan Beranda - Favorit - Peta Situs Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap!

Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

Waktu: 2026-08-04 16:35:22 Sumber: Juniki Penulis: Otomotif Dibaca: 725x

Kasus ledakan bom rakitan oleh seorang siswa MAN 3 Kota Padang membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem deteksi dini kekerasan di lingkungan institusi pendidikan.

Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menegaskan bahwa riset kekerasan di sekolah menunjukkan pelaku hampir tidak pernah "tiba-tiba meledak”.

Hal ini dipertegas oleh pernyataan guru dan teman kelas pelaku berinisial R, mereka menilai pelaku merupakan siswa pendiam yang tidak menonjol.

Namun ternyata dibalik itu, hampir selalu ada sinyal awal, terutama yang disebut sebagai leakage atau kebocoran niat.

"Kebocoran niat ini bisa lewat ucapan sambil lalu, tulisan, atau unggahan di media sosial. Sering kali hal ini diketahui oleh teman sebaya, namun tidak pernah sampai ke telinga orang dewasa atau guru," ungkap Wawan kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

Pernyataan ini sesuai dengan keterangan teman sekelas pelaku, yang menyebut bahwa sebelum melakukan aksi, R selaku memposting bahan untuk merakit bom di media sosial.

Sinyal lain yang kerap lolos dari pengamatan adalah penarikan diri yang makin dalam, fiksasi atau ketertarikan baru pada tema-tema kekerasan, hingga munculnya "ketenangan" mendadak yang sebenarnya merupakan fase kepasrahan.

Wawan mengkritik sistem pengawasan sekolah yang dinilai salah fokus dalam membaca dinamika psikologis murid.

"Akar masalahnya, sekolah kita cenderung terlatih mendeteksi pelanggaran yang berisik, bukan penderitaan yang senyap. Jika ada klaim 'tidak ada laporan perundungan', itu hampir selalu berarti tidak ada saluran pelaporan yang dipercaya oleh siswa, bukan berarti perundungan itu tidak ada," tegasnya.

Bahaya Group Polarization dan Peran Media

Selain faktor internal sekolah, Wawan juga menyoroti bahaya ruang digital dan pola pemberitaan media.

Di dunia maya, keberadaan grup daring yang homogen dapat memicu group polarization (polarisasi kelompok), di mana sikap anggotanya bergeser menjadi makin ekstrem.

Anonimitas di internet menurunkan rem sosial dan menormalkan hal-hal yang di dunia nyata dianggap tabu.

"Yang paling merusak empati adalah dehumanisasi. Calon korban hanya hadir sebagai abstraksi—'mereka, para perundung'—bukan sebagai manusia konkret. Ironisnya, bagi remaja yang terisolasi, komunitas daring yang memvalidasi rencana kekerasannya justru menjadi komunitas pertama yang mau menerimanya," jelas Wawan.

Di sisi lain, Wawan mengingatkan media massa agar berhati-hati dalam membingkai kasus ini.

Pemberitaan kasus serupa di masa lalu yang terlalu detail dan luas rentan berfungsi sebagai cetak biru (model) bagi remaja lain yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya.

"Liputan yang terlalu mendetail menyediakan naskah siap pakai. Remaja yang terluka tidak perlu mengarang solusinya sendiri, mereka tinggal meniru narasi yang beresonansi dengan luka mereka. Cara media membingkai kasus ini sekarang akan menentukan ada-tidaknya peniru (copycat) berikutnya," tutup Wawan.

(Editor: Pendidikan)

Konten Terkait
  • Telur Ceplok dan Telur Dadar, Mana yang Lebih Sehat? Ini Kata Dosen IPB
  • Detik-detik Anak Korban Kecelakaan Beruntun di Sibolangit Kenali Mobil Orangtua dari Video Medsos
  • Ono Surono Tolak SPP di Sekolah Negeri, Sebut Pendidikan Tanggung Jawab Negara
  • Bug yang Ditemukan Bocah SD Boyolali di Sistem NASA Bisa Jadi Celah Penipuan, Begini Penjelasannya
  • Waka BGN Ogah Ungkap Harga Motor Listrik di Rapat DPR: Materi Penyidikan
  • 4 Zodiak yang Disebut Paling Suka Mengatur, Scorpio Masuk Daftar
  • Pidato Perdana Andy Burnham sebagai PM Inggris: Janji Akhiri Tunawisma
  • Jerman Waspadai Daftar Mati 13 Tokoh Dunia yang Dirilis Media Iran
Konten Rekomendasi
  • Kemenag Sebut Tambahan Anggaran Rp 5,7 Triliun untuk TPG dan Dosen Sudah Disetujui Kemenkeu
  • Pria Australia Meninggal di Tahanan Imigrasi Bali, Keluarga Mempertanyakannya
  • Sopir Xenia Tabrak 4 Motor hingga 3 Orang Luka di Pondok Gede Diamankan
  • Prabowo: Senjata RI Diakui Dunia, Menang Pertandingan Menembak 12 Kali
  • Pemprov DKI Jakarta Buka Seleksi Duta Antihoaks, Khusus Pelajar SMA Negeri
  • Sekolah Rakyat 2026 Tampung 28.478 Siswa Baru dari Keluarga Miskin Ekstrem